Selasa, 15 Februari 2011

Indonesia Miliki 750 Bahasa Daerah

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram), Nurachman Hanafi mengatakan, Indonesia memiliki sedikitnya 750 bahasa daerah sebagai bahasa leluhur yang merupakan warisan tak ternilai harganya.

“Di negara kita terdapat sekitar 750 bahasa daerah, akan tetapi masih banyak yang belum diteliti dan terbenam di perut ibu pertiwi,” ujarnya ketika menyampaikan makalah bertajuk “Bahasa Daerah Sebagai Aset Nasional Bangsa” yang disampaikan pada Seminar Nasonbal Bahasa dan Sastra Dalam Konteks Keindonesiaan II, di Mataram, Rabu [17/06].


Ia mengatakan, keberadaan 270 bahasa daerah di Indonesia sebenarnya sangat dikagumi para peneliti asing karena memiliki ciri khas pembedanya sehingga dapat dijadikan aset nasional untuk memperkaya dan mengembangkan Bahasa Indonesia (BI).

Menurut dia, berdasarkan populasi pendukungnya, Bahasa Jawa (BJ) menempati urutan pertama dengan penutur 60 juta jiwa, Bahasa Sunda (BS) kedua dengan penutur 24 juta jiwa, sedangkan BD lainnya dalam daftar urutan berikutnya.

Jumlah penutur secara signifikan berkaitan dengan keberlanjutan suatu bahasa daerah dengan catatan adanya pembudayaan dan pemberdayaan bahasa daerah tersebut secara turun-temurun.

Nuracahman mengatakan, besarnya jumlah BD merupakan aset nasional bangsa yang tak terhingga jika para penuturnya menyadari betapa keberagaman bahasa itu penting, mempertahankan keberagaman bahasa erat kaitannya dengan stabilitas kesuksesan kemanusiaan. Alasannya, jika transmisi bahasa yang pluralistis melemah mengakibatkan hilangnya waris-mewariskan pengetahuan tentang kebahasaan.

Melemahnya keberagaman bahasa membuat kekuatan adaptasi manusia sebagai mahluk sosial merosot sebagai akibat rendahnya pola pikir.

Dia mengatakan, jumlah bahasa yang ada di dunia hingga saat ini sekitar 3.000 – 10.000, namun itupun masih harus dicermati lagi apakah jumlah semuanya termasuk dialek di dalamnya.

Menurut Nurachman, kepunahan bahasa-bahasa di belahan selatan dan barat daya dunia disebabkan oleh dominasi atau kolonialisasi Bahasa Inggris yang terlalu kuat sehingga tidak memungkinkan bahasa-bahasa lainnya bertahan.

Ia mengatakan, kosakata (lexicon) Bahasa Inggris berupa peristilahan-peristilahan cukup dalam mempengaruhi bahasa-bahasa dunia, sebaliknya jika ditinjau dari kajian morfo-sintaksis, sesungguhnya Bahasa Inggris tidaklah sehebat bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.

Ia menambahkan, semakin pesat perkembangan bahasa Indonesia modern dan ragamnya di Indonesia berimplikasi kepada eksistensi bahasa daerah yang ada, karena hampir semua bahasa daerah mengalami tekanan yang bersifat eksternal dan internal.

Kebijakan terhadap bahasa Inggris di dunia pendidikan jenjang paling bawah turut mempersempit ruang gerak bahasa daerah, kata dia. Dalam Seminar TEFLIN di Bandung (8-10 Oktober 1992) telah direkomendasikan bahwa pengajaran bahasa Inggris sebagai muatan lokal pada waktu itu yang bersifat opsional agar diberikan di SD mulai dari siswa kelas IV hingga kelas VI .

Belakangan rekomendasi ini menjadi kebijakan sekolah-sekolah untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai primadonanya, alhasil, para orang tua di perkotaan cenderung memasukkan anaknya bersekolah di sekolah-sekolah yang ada bahasa Inggrisnya daripada menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ia menambahkan, banyak orang tua tidak mampu mewariskan bahasa daerah kepada anak-cucunya yang berakibat hilangnya rantai generasi penerus. ( ant )

Sumber :
http://beritasore.com/2009/06/17/indonesia-miliki-750-bahasa-daerah/
17 Juni 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar